Sabtu, 01 Desember 2012

Sabtu, 01 Desember 2012

Daya Beli Menurun, Kasus Gizi Buruk Melonjak Tajam


 


NGAWI™ Meski seabrek kegiatan mulai dari gemar makan ikan serta touring kuliner yang mungkin saja bertujuan menyadarkan masyarakat akan pentingnya Gizi, ternyat Kasus kematian akibat gizi buruk terhadap bayi dibawah lima tahun (balita) di Ngawi mengalami peningkatan tajam. Ditengarai, ini akibat daya beli masyarakat yang makin menurun.

Seperti yang berhasil diungkap masalah penanganan gizi buruk kuran maksimal di wilayah Kabupaten Ngawi terbukti pada akhir tahun ini justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sesuai data riil versi Samsul Fathoni salah satu pemerhati kesehatan anak dari Ngawi menerangkan setidaknya tercatat ada 347 kasus gizi buruk di tahun 2012 ini sedangkan tahun sebelumnya ada 276 kasus gizi buruk yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Paron, Padas, Pitu, Jogorogo, Ngawi, Gerih, Geneng dan Mantingan.

Peningkatan tersebut terbagi atas 15 balita terkena gizi buruk dengan 4 balita dinyatakan meninggal, selain itu tercatat 3 balita kategori gizi kurang, 11 balita gizi buruk dan 1 balita terkena marasmus.

Tambahnya, para pengambil kebijakan dalam hal ini paling kompeten terdiri Dinas Kesehatan dan BKKBN dinilai kurangnya melakukan koordinasi serta sosialisasi terhadap gizi balita dimasyarakat. “Padahal kalau dicermati betul untuk menentukan gizi baik tidak harus dengan biaya mahal, dengan demikian asupan ataupu nutrisi terhadap balita perlu mendapatkan perhatian bersama,” ujar Samsul Fathoni.

Jelasnya lagi, penyebab utama gizi buruk di wilayah Ngawi sebetulnya bukan faktor kemiskinan yang mendera keluarga. Pada dasarnya minimnya pengetahuan orang tua terhadap pentingnya gizi bagi balita juga menjadi faktor penunjang. “Kalau sudah begini keadaanya, maka langkah pemerintah daerah sendiri harus meningkatkan pemahaman kembali terhadap masyarakat akan kesehatan balita,” tuturnya.

Sementara terkait adanya peningkatan gizi buruk pihak Komisi II DPRD Ngawi sejauh ini sesuai pengamatan media masih berpangku tangan. Sesuai fungsinya sebagai lembaga legislative mereka seharusnya lebih intens melakukan pengawasan terhadap budget pengeluaran yang dianggarkan pada pos kesehatan balita dalam APBD setiap tahunya melalui Dinas Kesehatan.

Kemudian untuk memperjelas faktor utama atas gejolak peningkatan gizi buruk terhadap balita kepada Dinas Kesehatan sampai saat ini belum bisa memberikan jawaban. Sesuai informasi Dr.Heru selaku Kasi Gizi dan Keluarga Dinas Kesehatan Ngawi masih berada di Surabaya dalam rangka kunjungan kerja.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar